Laman

Today's note..

Senin, 07 Oktober 2013

Sistem Informasi Psikologi



A.    Pengertian Informasi
 Kata informasi berasaldari kata Perancis kuno, informacion (tahun 1387) yang diambil dari bahasa latin, informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”.
Menurut Gordon B. Davis (dalam Gaol, 2008) informasi adalah data yang telah diproses atau diolah ke dalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesungguhnya atau dipahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya.
Sedangkan menurut Amsyah (1977) Informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu. Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam kedalam berbagai bentuk media.
Dari beberapa definisi diatas dapet disimpulkan bahwa informasi adalah data atau fakta yang telah diolah dan diproses sedemikian rupa agar berguna bagi penerimanya serta dapat dipahami untuk pengambilan keputusan. 
B.     Interaksi antara Informasi dan Sistem
Untuk mengetahui interaksi antara informasi dengan sistem, sebelumnya akan diuraikan terlebih dulu apa itu sistem? Menurut Gaol (2008), sistem adalah hubungan satu unit dengan unit-unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Apabila satu unit macet atau terganggu, unit lainnya pun akan terganggu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Menurut Marimin, dkk (2006), sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks. Sedangkan menurut Sarosa (2009) sistem adalah sekumpulan komponen yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem merupakan komponen-komponen yang menyatu, saling berinteraksi dan berhubungan satu dengan yang lainnya, serta tidak dapat dipisahkan demi mencapai suatu tujuan bersama.
Contoh dari suatu sistem adalah perusahaan atau suatu organisasi. Organisasi / perusahaan adalah tempat sumber daya manusia bekerja sama dan berinteraksi untuk merealisasikan formulasi tujuan yang telah ditetapkan (Gaol, 2008).
Dalam suatu sistem atau kaitannya dengan suatu perusahaan / organisasi dibutuhan informasi agar sistem tersebut tetap berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Informasi mempunyai manfaat dan peranan yang sangat dominan dalam suatu organisasi / perusahaan atau sistem. Dan juga di dalam pengolahan sistem pada akhirnya akan menghasilkan suatu informasi, untuk itu pendefenisian informasi diperlukan untuk menunjang berhasilnya pengembangan sistem yang akan dirancang. 
 
C.     Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Diatas tadi telah dijabarkan definisi dari informasi dan sistem. Lalu apakah pengertian dari sistem informasi sendiri? Serta apa itu sistem informasi psikologi? Mari kita bahas lebih lanjut di bagian ini.
Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis.
Alter berpendapat untuk sistem informasi sebagai tipe khusus dari sistem kerja. Sistem kerja adalah suatu sistem di mana manusia dan/atau mesin melakukan pekerjaan dengan menggunakan sumber daya untuk memproduksi produk tertentu dan/atau jasa bagi pelanggan. Sistem informasi adalah suatu sistem kerja yang kegiatannya ditujukan untuk pengolahan (menangkap, transmisi, menyimpan, mengambil, memanipulasi dan menampilkan) informasi.
Sedangan Menurut Kusrini & Kaniyo (2007) sistem informasi adalah sebuah sistem yang terdiri atas rangkaian subsistem informasi terhadap pengolahan data untuk menghasilkan informasi berguna dalam pengambilan keputusan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah interaksi antara teknologi informasi dan manusia yang menggunakan teknologi tersebut yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa bagi orang lain.
Sebelum masuk dalam definisi sistem informasi psikologi, akan dibahas dulu apa itu psikologi? Menurut Widjono (2007) psikologi berasal dari kata psyche berarti jiwa, dan logos berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa. Menurut Basuki (2008) psikologi adalah ilmu pengetahuan (ilmiah) yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan juga emosional. Sedangan Menurut Wade & Tavris (2007) psikologi dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal.
Oleh karena itu sistem informasi psikologi dapat disimpulkan sebagai suatu gabungan atau interaksi antara teknologi informasi dan manusia dengan berbagai perilaku dan proses mentalnya masing-masing yang bertujuan untuk menghasilkan suatu informasi, produk, atau jasa dalam kaitannya dengan kejiwaan atau hal-hal yang berkaitan dengan psikologi.
Menurut Gaol (2008) sistem informasi psikologi bertujuan mendapatkan pemahaman bagaimana manusia pembuat keputusan merasa dan menggunakan informasi formal. 
 
D.    Contoh Kasus dan Analisa
Dewasa ini manusia dan teknologi sudah sangat menyatu untuk melakukan segala aktivitas, termasuk psikologi yang juga sudah banyak memanfaatkan teknologi-teknologi yang ada. Seperti contohnya banyak psikolog yang membuka konsultasi dengan menggunakan media internet. Seseorang yang ingin berkonsultasi tidak harus bertemu langsung dengan psikolognya tetapi bisa dengan mudah berkonsultasi dan bertukar informasi dengan menggunakan media internet. Asalkan ada komputer, laptop atau gadget yang menunjang adanya internet, dan juga adanya koneksi internet, semua bisa dilakukan. Bahkan terapi jarak jauh juga bisa dilakukan dengan menggunakan media seperti webcam, handphone, dan lain sebagainya. Hanya saja itu masih jarang dilakukan karena membutuhkan orang yang benar-benar ahli di bidangnya. 
 
Daftar Pustaka:
Anonim. (2012). Sistem informasi psikologi. http://maizarpsikologi09.blogspot.com/2012/09/sistem-informasi-psikologi.html. Diakses 1 Oktober 2013 pukul 16.21
Anonim. (2013). Sistem informasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi. Diakses 1 Oktober 2013 pukul 15.58
Amsyah, Zulkifli. (1977). Manajemen sistem informasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi Umum. Depok : Universitas Gunadarma.
Gaol, C.J.L (2008).Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.
Hutasoit, Y. (2012). Softskill: Sistem informasi psikologi. http://unpredictablepeople.wordpress.com/2012/09/30/softskill-sistem-informasi-psikologi/. Diakses 2 Oktober 2013 pukul 10.30
Kusrini & Kaniyo, A. (2007). Tuntunan Praktis Membangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic dan Microsoft SQL Server. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Marimin., Tanjung, hendri., & Prabowo, Haryo. (2006). Sistem informasi manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Grasindo
Sarosa, S. (2009). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Grasindo
Wade, C. & Tavris, C. (2007). Psikologi (ed.9). Jakarta: Erlangga.
Widjono. (2007). Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.

Jumat, 15 Maret 2013

Psikoterapi


1.     Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya “mind” atau jiwa dan “therapy” dari Bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan” seseorang.
Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychotherapy” tidak tercantum, tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang diartikan sebagai  perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis.
Psikoterapi juga diartikan sebagai suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah-masalah yang dasarnya emosi, di mana seseorang yang terlatih, dengan saksama membentuk hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan positif dari kepribadiannya. (Wolberg, 1954)
 Whitaker & Malone (1953) merumuskan psikoterapi sebagai perubahan pada aspek emosi dalam hubungan antar-pribadi yang meningkatkan pertumbuhan pada salah satu atau semua yang ikut terlibat.
Menurut Wohlberg, psikoterapi adalah pengobatan dengan cara psikologis dari masalah yang bersifat emosional di mana seseorang terlatih sengaja membangun hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan:
- Menghapus, mengubah atau menghambat gejala
- Yang terganggu pola mediasi perilaku
- Meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang positif dan pengembangan.
Sedangkan menurut Corsini, psikoterapi adalah Proses interaksi formal 2 pihak (2 orang/lebih), bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distres) pada salah 1 pihak karena tidak berfungsinya / ketidakmampuan pada fungsi kognitif, afeksi atau perilaku, dengan terapis berusaha mengembangkan memelihara atau mengubahnya dengan menggunakan metode2 sesuai pengetahuan & skill, serta bersifat profesional & legal.

2.     Tujuan Psikoterapi
Berikut tujuan psikoterapi dari berbagai pendekatan menurut Ivey (1987) dan Corey (1989).
·         Tujuan psikoterapi psikodinamika menurut Ivey adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadian dilakukan terhadap kejadian yang sudah lewat. Kemudian menyusun sintesis yang baru dari konflik yang telah lalu. Sedangkan menurut Corey, tujuan psikoterapi  psikodinamika adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
·         Ivey menggambarkan tujuan psikoterapi Rogerian adalah untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang agar menemukan sendiri arah wajarnya, menemukan dirinya yang nyata, mengeksploitasi emosi yang mejemuk, dan sebagainya. Sedangkan Corey menggambarkan psikoterapi Rogerian sebagai pemberian suasana aman dan bebas agar klien mengeksplorasi diri dengan baik, mengembangkan diri ke arah keterbukaan, memperkuat percaya diri, dan sebagainya.
·         Ivey merumuskan tujuan eksistential humanistic sebagai proses untuk menemukan arti dan melakukan tindakan, menyadarkan hal azasi terhadap manusia, mengewmbangkan aspek-aspek diri untuk mencapai kematangan. Corey menyatakan tujuan eksistential humanistic sebagai upaya membantu seseorang mengetahui ia punya kebebasan, membantu klien mengenali bahwa ia bertanggung jawab, dan untuk mengidentifikasi faktor yang menghambat kebebasannya.
·         Ivey menyatakan tujuan psikoterapi behavioristik sebagai upaya menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku sesuai pola perilaku yang benar. Corey, dengan psikoterapi behavioristik  bertujuan untuk menghilangkan perilaku yang tdak sesuai dan belajar perilaku yang efektif.
·         Ivey menjelaskan tujuan psikoterapi kognitif behavioristik yaitu untuk menghilangkan pikiran menyalahkan diri, mengembangkan berpikir lebih rasional, dan toleran terhadap diri dan orang lain, dan sebagainya. Dan Corey merumuskan tujuan psikoterapi kognitif behavioristik dan rasional emotif yaitu untuk menghilangkan cara pandang klien untuk mennyalahkan diri, membantu memperoleh pandangan hidup yang lebih rasional dan toleran,  membantu klien untuk memberi metode dalam penyelesaian masalah.
·         Menurut Ivey dalam pendekatan gestalt memiliki tujuan agar seseorang lebih menyadari kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah hidup seseorang. Tujuan pendekatan gestalt menurut Corey, untuk membantu klien memperoleh pemahaman dalam bertanggung jawab.
·         Pendekatan terapi realitas menurut Ivey, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa campur  tangan orang lain agar mampu menentukan keputusan yang bertanggung jawab. Corey merumuskan tujuan terapi realitas yaitu untuk memenuhi kebutuhan dalam menilai apa yang sedang dilakukan. 

3.     Unsur-unsur Psikoterapi
Dalam psikoterapi, unsur-unsur aktif dalam pekerjaan reparasi emosional ini meliputi hubungan baik dan rasa percaya antara klien dan terapis yang bergerak bersama dengan baik serta terbukanya aliran emosi yang lebih bebas antara klien dengan terapis.

4.     Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Beberapa pemahaman seringkali menjadi permasalahan, apakah yang dilakukan penolong terhadap kliennya dalam proses psikoterapi atau konseling. Ada beberapa di antara kedua metode ini memiliki perbedaan, di sisi lain ada juga kesamaan. Menurut Mappiare (2004) ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan konseling dikemukakan sebagai berikut:
a.       Konseling merupakan bagian dari psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih luas dari pada konseling.
b.      Konseling lebih mengarah pada penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih mengarah pada pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang mengarah penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
c.       Dasar konseling adalah filsafat manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan dasar-dasar psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan selanjutnya konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori kepribadian dalam konteks ilmu perilaku.
d.      Dijelaskan oleh Narayana Rao (dalam Mappiare, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan psikoterapi sama, namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya. Psikoterapi mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien, agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.

5.     Pendekatan Psikoterapi
a.       Psychoanalysis & Psychodynamic
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria. Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.
b.      Behavior Therapy
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Respon Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.
c.       Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan Cognitive adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT)  dan sebagainya.
d.      Humanistic Therapy
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.
e.       Integrative / Holistic Therapy
Yang sering saya temui adalah seorang klien mengalami komplikasi gangguan psikologis yang mana tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja. Oleh karena itu, saya menggunakan beberapa metode psikoterapi dan beberapa pendekatan sekaligus untuk membantu klien saya. Hal ini disebut Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.
Itulah beberapa metode psikoterapi yang sering saya gunakan dalam membantu klien-klien saya untuk berubah. Selain metode yang saya sebutkan di atas, kadang juga saya menggunakan metode-metode psikoterapi lain yang terbukti efektivitasnya. Karena begitu banyaknya metode psikoterapi, maka tidak mungkin menjelaskan satu per satu di halaman ini. Cukuplah untuk Anda ketahui bahwa metode psikoterapi yang saya gunakan adalah metode yang tebukti dan diakui manfaatnya dalam dunia psikologi modern.

6.     Bentuk Utama Terapi
Berdasarkan tujuan dan pendekatan metodis, Wolberg membagi perawatan psikoterapi menjadi tiga (3) tipe, yaitu :
a.        Penyembuhan Supportif (Supportive Therapy)
Merupakan perawatan dalam psikoterapi yang mempunyai tujuan untuk :
—  Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
—  Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau kepribadian
—  Pengembalian pada penyesuaian diri yang seimbang.
Penyembuhan supportif ini dapat menggunakan beberapa metode dan  teknik pendekatan, diantaranya :
—  Bimbingan (Guidance)
—  Mengubah lingkungan (Environmental Manipulation)
—  Pengutaraan dan penyaluran arah minat
—  Tekanan dan pemaksaan
—  Penebalan perasaan (Desensitization)
—  Penyaluran emosional
—  Sugesti
—  Penyembuhan inspirasi berkelompok (Inspirational Group Therapy)
b.      Penyembuhan Reedukatif (Reeducative Therapy)
Suatu metode pnyembuhan yang mempunyai bertujuan untuk mengusahakan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran/tujuan hidup, dan untuk menghidupkan kembali potensi. Adapun metode yang dapat digunakan antara lain :
—  Penyembuhan sikap (attitude therapy)
—  Wawancara (interview psychtherapy)
—  Penyembuhan terarah (directive therapy)
—  Psikodrama
—  Dan lain-lain.
c.       Penyembuhan Rekonstruktif (Reconstructive Therapy)
Penyembuhan rekonstruktif mempunyai tujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan untuk perluasan pertunbuhan kepribadian dengan mengembangkan potensi. Metode dan teknik pendekatannya antara lain :
—  Psikoanalisis
—  Pendekatan transaksional (transactional therapy)
—  Penyembuhan analitik berkelompok

Berdasarkan teori dan teknik yang diterapkan, jenis-jenis psikoterapi dibagi menjadi :
a.       Psikoanalisis
Suatu teknik terapi yang ditemukan oleh Sigmund Freud dengan mencoba menjelajahi alam ketidaksadaran pasiennya melalui wawancara yang dinamakan asosiasi bebas (free association) sampai si pasien menemukan sumber masalahnya.
b.      Hypnoterapi
Teknik ini menggunakan metode hipnotis untuk menemukan ambang kesadaran dan mensugesti pasien untuk sembuh, bersifat instan (dapat langsung menghilangkan gejala) tetapi hanya berlangsung sesaat dan akan kembali kambuh lagi jika pengaruh sugseti telah hilang.
c.       Terapi  Kelompok
Dalam terapi kelompok, psikoterpis mengajak beberapa orang dalam proses terapi, baik dari semua pasien dengan persoalan sejenis maupun dari kalangan keluarganya.
d.      Terapi Bermain
Terapi ini digunakan pada anak-anak, dengan maksud sambil bermain, si anak bisa memproyeksikan perasaan-perasaan terhadap orang yang menjadi sumber masalahnya.
e.       Terapi Humanis (Client Centered)
Terapi ini didasarkan pada asumsi yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Disini, psikoterapis berfungsi untuk membantu klien menelusuri semua potensi positif dalam dirinya hingga ia bisa mengembangkan dirinya dan meninggalkan gejala-gejala gangguan mental.
f.       Terapi Perilaku (Behavior)
Biasanya terapi ini digunakan untuk mengatasi phobia. Caranya yaitu mendekatkan benda yang ditakuti itu dengan hal-hal yang menyenangkan klien, sehingga akan menimbulkan asosiasi positif antara benda yang ditakuti dengan hal yang menyenangkan itu, dan lama-kelamaan phobia bisa hilang. Kelemahan dari terapi ini adalah sewaktu-waktu phobia itu bisa muncul kembali jika ada trauma baru.
g.      Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavior Therapy)
Untuk mengatasi kelemahan  terapi perilaku, dikembangkan terapi ini. Dalam teknik ini, semua emosi negatif terhadap hal tertentu dibahas tuntas secara rasional sampai klien bisa mengubahnya menjadi lebih positif.
h.      Terapi Seni (Art Therapy)
Seni yang digunakan dalam terapi ini biasanya seni rupa, seperti lukis dan patung. Dan dalam proses pembuatan benda seni tersebut, diharapkan si klien dapat melepaskan emosinya (katarsis) dan memproyeksikan perasaan-perasaannya sehingga terasa lebih ringan.
i.        Konseling
Terapi ini berbentuk wawancara, disini terapis membantu klien mencari penyelesaian yang terbaik untuk masalahnya. Konseling biasanya digunakan dalam masalah-masalah ringan, seperti kesulitan dalam belajar.

Sumber:
Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Corey, G. (1997). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi Terjemahan : E. Koeswara. Bandung : PT. Eresco
Sarlito W. Sarwono. (2009). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Mappiare AT., Andi. (2004). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: Raja Grafindo Persada